“Bahwa Dia adalah Cinta”
Sajak-sajak kearifan agung terucapkan
Torehan retorika memusnah membabi buta
Sayang, api kesombongan datang membakarnya
Dengan mudah menjadi pengkhianat
Linglung seorang bertanya
Masih adakah nurani menamparnya
Namun, tetap saja bejat dianggap mainan
Teriakan hati pun senantiasa dibungkam
Lalu menguburnya dalam-dalam
Tanya memadati pikiran
Mungkinkah kabar malaikat itu benar?
Manusia adalah janin kebinasaan
Lantaran riak-riak kehidupan terus bergejolak
Sengatan sejarah pun masih sangat terasa
Terhanyut dalam pekatnya malam
Bersama makhluk-Nya yang menemani dalam diam
Isak-isak tangis penyesalan kini mulai meredam
Menemukan Cahaya yang telah terkubur sangat dalam
Mungkin jenuh melihat keberingasan yang mengaku umat-Nya
Mencoba bersanding bersama-Nya
Dalam aliran syair pujian-pujian suci
Tak akan terlupa
Bahwa Dia adalah Cinta
