Background

“Untuk yang terkasih”

Usiamu mendekati senja Ayah
Namun engkau tak pernah lelah menelan pahit kehidupan
Senantiasa mengukir hari dengan sumringah khasmu
Tapi ku tahu, segunung beban terpaku di pundakmu

Lihatlah, tanganmu lebam Ibu
Mengerut menghitam terkena mentari
Tetap saja menghiburku dengan semangatmu
Tapi ku tahu, kini mimpi indah terlewatkan olehmu

Sembari melukis asa dalam risalah yang tak pasti
Kuingin kalian sadari
Ada tangan yang kini tak mungil lagi
Menyuguhi kebahagiaan dengan hati

Terima kasih…
Aku mulai mengerti
Tak ada pamrih
Untuk yang terkasih

Kupanjatkan doa kepada Sang Perajut Takdir
Semoga kalian merasakan nikmat surgawi

Leave a Reply