Background
Ada benarnya juga sebuah frase yang mengatakan,”don’t judge a book by its cover “ tampakan luar sesuatu tak menjamin keselarasan dengan bagian dalamnya. Atas dasar pandangan ini saya tak ragu ikut bergabung dalam sebuah komunitas, yang menurut beberapa orang adalah sarang orang-orang tak terdidik dan tak punya kontribusi produktif dalam kehidupan. Seperti kebanyakan orang, curiosity semakin menguat saat upaya untuk memenuhinya terhalang. Akhirnya, dugaanku terbukti, komunitas ini tak seperti yang digambarkan oleh beberapa orang. Saya lebih suka mengatakan bahwa mereka punya arti kerja yang berbeda dengan anda. Perbedaan mencolok anda dan mereka adalah tempat “mendesign cara berpikir”, anda menyebutnya kuliah, sedangkan mereka menyebutnya nongkrong. Hampir bisa dipastikan, buku –apalagi jenis buku ilmiah– adalah barang terjarang di rumah-rumah mereka, tetapi entah didapatkan dari mana serangkaian kata : “di sini tempat cari senang, bukan tempat lo mencari uang.” Saya memang belum bertanya kepada mereka, apakah ajaran Mahatma Gandhi tentang swadesi, ataukah kisah Nabi Daud –seorang pekerja keras – pernah mereka baca. Namun jika anda ingin tahu swadesi dalam realitas yang lain, ataukah sekadar ingin tahu seperti apa itu kerja keras, datanglah mengunjungi mereka kawan. Mereka memang minoritas, tetapi mereka punya idealisme bahwa menjual idealisme demi dapur agar senantiasa mengepul, sama saja memberi jalan mulus kepada sejarah untuk mengabadikan namanya sebagai minoritas yang termarjinalkan. Masih soal tampakan luar. Di pertengahan Ramadhan lalu saya bertemu dengan kawan dekat. Dia meminta do’a agar sekiranya terbantu di ujian skripsinya nanti. Saya pun mengaminkan. Agak tersentak ketika dia mengambil alih pembicaraan dengan berkata,” kayaknya do’amu lebih afdhol deh Fit.” Baru sekali itu dia berkata demikian di suatu moment di mana dia pertama kali melihatku menggunakan kain panjang dari kepala menjuntai ke lutut. Di waktu yang berbeda, baru saja seminggu berlalu, seorang tetangga memintaku untuk membaca Al-qur’an di acara lamaran adiknya, saya langsung mengiyakan, namun kemudian ragu. Apakah sang tetangga mengira bahwa semua yang berjilbab seperti saya bisa mentajwidkan bacaan Al-Qur’an. Bagaimana jadinya jika ekspektasi sang tetangga tak terpenuhi karena saya hanya bisa membacanya sesuai makhrajnya, tidak seperti peserta mushabaqah tilawatil Qur’an. Namun akhirnya kulaksanakan juga, sesuai prediksiku, pendengar heran. Cerita ini menjadi bahan refleksiku soal PAKAIAN. Anda bisa terasingkan,tersisihkan, termuliakan, tercendekiawankan, hanya dengan mengenakan kain yang dibentuk sedemikian rupa. Pakaian bisa menutupi realitas yang sesungguhnya, menciptakan realitas semu yang bisa dimainkan kepada dan oleh siapa saja yang memuja tampakan luar (superficial). Mereka yang tertipu ibarat investor/kreditornya Enron Corp yang dikibuli oleh emitennya sendiri setelah berkonspirasi dengan KAP Andersen saat memoles Laporan Keuangan perusahaannya –boleh juga dikatakan konspirasi hati ala Vickysme. Atau metafora lain: seperti mereka yang tak jadi putih setelah memakai produk pemutih yang diiklankan di TV (menjadi tumbal korporasi yang merekayasa realitas menjadi iklan, hasilnya: fethisisme produk). Saya teringat perkataan suami, “di dalam istri yang sehat ada suami yang sehat”, sedikit geli mendengarnya. Ini adalah plesetan idiom yang sering terdengar: di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat pula. Jiwa mempengaruhi raga, nonmateri mempengaruhi materi, aksiden(tampakan luar) mengikuti subtansinya. Saya memaknainya bahwa suami-istri adalah penggambaran atas integrasi aksiden dan substansinya. Selaras dengan hal ini dalam kitab suci Al-qur’an pun menggunakan perumpaman pakaian, hunna libasullakum wa antum li basullahunna : mereka adalah pakaian bagimu dan engkau pun adalah pakaian bagi mereka.(Al-Baqarah ayat 187). Sebagaimana fungsi pakaian yang dapat membuatmu terlihat mulia, istri/suami pun demikian. Yang utama adalah ketika istri/suami (pakaian, tampakan luar, aksiden) tidak menyalahi substansinya, juga sebaliknya. Sehingga tak akan ada yang namanya pencitraan/simulakrum ataupun panggung sandiwara kata Taufiq Ismail. Saya di 15 September 2013 11.01, di depan rak belah ketupat milik Rumah Baca Philosophia.
 Sehari sebelumnya kecerobohanku memperlihatkan tajihnya kembali. Aku membeli tiket untuk mama dengan jadwal yang tak selaras dengan aturan imigrasi Malaysia. Dan akibatnya  mama harus berlama-lama dengan petugas imigrasi setempat setiba beliau di Kuala Lumpur. Bagiku ini ceroboh yang fatal. Aku kira pun juga menurutmu. Ini terlihat dari sikapmu mendiamkanku. Aku paham dan kita pun lama saling mendiamkan.
                 Entah saat itu pukul berapa, engkau datang berupaya diam-diam, namun langkahmu bersuara jadi aku tau engkau datang. Aku kemudian lega, lengan yang kuat itu melingkari tubuhku membuatku terasa hangat dalam dekapanmu, dan kecupan yang tak sekejap mendarat di keningku. Dugaanku kini meleset, aku kira diam-diaman kita akan berlarut hingga esok dan esoknya lagi. Cerita ini menjadi berubah, “selamat ulang tahun istriku.”, terucap setengah berbisik.
                 Demi Allah aku lupa hari kelahiranku. Maha indah skenario-Nya. Dia membuatku lupa dan menghendakimu mengingatkanku. Aku mengharu, betapa Maha rendah hati-Nya Dia menyentuh kalbuku dengan sepenggalan kisah kita. “maafkan sayang, aku hanya memberi pelukan hangat bukan benda-benda yang terpajang di luar sana.” Aku semakin mengharu biru, aku teringat dengan penggalan munajat putri Rasulullah yang baru saja ku dengar dari mulut seorang ustad, “ Ya Tuhan jadikanlah aku hidup sederhana baik di kala papa maupun di kala kelebihan.” Sebulan lebih kita bersama, masaku bersamamu memberikan pembelajaran untuk tetap istiqamah dalam kesederhanaan. Meskipun terkadang aku memintamu manja mengikuti nafsu makanku yang beraneka. “Sepertinya aku ngidam deh kak.”, kalimat andalan untuk membuatmu segera mengamini permintaan-permintaan tak rasional dariku.
                Terima kasih ucapanmu sayang. Tak ada yang lebih indah selain bisikan sabda yang memberi isyarat kepada mata untuk berbicara. Alhamdulillah Ya Rahman Ya Rahim.

                                             Awal fajar Senin, memasuki bulan kedua pernikahan kita. (6 Mei 2013)
aku ingat beberapa kata
alasan engkau memilihku menjadi makmummu
engkau lontarkan saat aku bertanya kembali
mungkin diamnya Bunda Fatimah saat ditanya oleh Nabi, bermakna bahwa beliau malu
atau mungkin saja saat itu Bunda sedang menakar dirinya,
layakkah beliau mendampingi sosok Sayyidina Ali

aku pernah membaca karyamu yang engkau abadikan dalam kata

engkau menulis tentang agungnya perempuan dalam baluran gaun spiritual
gemetar aku membacanya
mungkinkah diriku dapat menyerupai perempuan dalam imajimu itu?

"ada wujud Tuhan dalam dirimu"
kemudian engkau menanyakan,
bagaimanakah jadinya kelak jika Tuhan sirna dalam lakumu
"saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran", lanjutku meyakinkan

kini, tak menunggu waktu lama
janji itu akan terdengar
tak hanya olehku, oleh kita
foto:cahayahati89.wordpress.com 
tetapi juga mereka

Tuhan menguji mereka yang mengaku berjalan menuju-Nya
serangkaian tangga
kerikil tajam
batu cadas
persimpangan yang membingungkan
telah menunggu di depan sana
beberapa langkah dari sini
dari tempat di mana kita beranjak

ibarat bahtera, mampukah kita membawanya ke seberang sana?
di sana: pusar kehidupan.

aku memohon semoga engkau mencintaiku
seperti cinta seorang hamba kepada Tuhannya
agar aku tak perlu risau menakar ketaatanku
agar kalbumu dalam lakumu
menjadi jawaban atas seuntai tanya: "Berkhidmat Kepada-Nya dapatkah mewujud dengan berkhidmat kepada makhluknya?"

                   Pemilik Cinta, bawalah kami menuju Samudera Cinta-Mu yang Maha Luas...



                                                                                      Pandang-Pandang, Rabu, 6 Februari 2013
                                                                                    hujan perdana Februari (15.24) 
                                                                                  di ruangan persegi panjang       
                                                                                 tempat adik-adik bertanya
                                                                                    mengapa harus bersekolah.
foto: noruleminthutch89.blogspot.com -
Aku gelisah kawan, aku gelisah karena yang aku tahu, tak dapat kumunculkan dalam realitas ini. Ketika saudaraku saling memangsa, aku tak berani melerai, ketika sekelilingku melakukan hal bodoh, aku turut membenarkannya. Sungguh susah kawan menjadi seorang manusia, sama susahnya menemukan Tuhan dan menghormati-Nya. Tuhan akan menghukumi ciptaan-Nya menurut pemahaman mereka masing-masing, sepertinya Dia akan menghukumiku sebagai seorang munafik, seorang bodoh karena tak berdaya, atau lebih tepatnya tak memberdayakan diri. Entah bagaimana bentuk kontrakku dengan Dia ketika Dia memberiku wujud kasar ini. Entah sejak kapan kontrak itu mulai menua, hilang menguap dan tak  berbekas lagi. Namun, ada saat realitas ini memaksaku untuk mencari Dia, menemukan Dia, dan membawa-Nya bersamaku karena yang ada di hadapanku sungguh tak membuatku tenang. Gelisah diam-diam menghampiriku, ketika khayalan surga memaksa untuk diabadikan, namun di saat yang sama neraka mengumpulkan tenaganya untuk menghabisiku. Sungguh sulit kawan menjadi manusia, sama sulitnya ketika engkau “buta” kemudian menghitung nikmat-Nya. Ku pikir ini kerena kebodohanku, semakin larut dalam gelisah, semakin beku untuk bergerak, mati rasa. Aku tak tahu berkompromi dengan realitas, atau aku lumpuh karena virusnya yang semakin ganas? Tetap saja, ini membuatku mati rasa. Aku butuh Engkau, cahaya-Mu yang membawaku ke samudera kebebasan dan menyelami segalanya.


 Senin pagi, saat aku tak mendapatkan restu untuk turun ke jalan mempertanyakan lari ke mana keadilan untuk kawan-kawanku di Bima dan di seluruh pelosok bumi-Nya.(26 Desember 2012), akhir tahun yang menyedihkan.
(Senyum ini tidak pernah renyah lagi kawan, semenjak ku tahu sungguh sulit menjadi manusia. Maaf kawan, hanya ucapan doa dari seorang yang bukan ahli ibadah yang bisa ku beri.)

Esok, Jumat, 1 Maret 2013, seorang gadis berumur 23 tahun, _berperawakan: tinggi: 161 cm, dengan berat badan ± 55 kg, kulit sawo matang, mata agak sipit, bentuk hidung dan bibir ala ras Melayu Mongoloid_ kemungkinan besar akan menerima SP( surat peringatan )  dari tempatnya  bekerja. “Lupa” alasan andalan yang selalu keluar dari mulutnya. Sebenarnya ini bukan alasan yang dibuat-buat. Lupa _salah satu dari sekian banyak daftar ketidaksempurnaannya_kini semakin menjadi-jadi. Di tahun pertama dia bekerja, segalanya lancar,  hampir dikatakan sempurna. Jadwal berbagi dengan adik-adik tak pernah terlewatkan. Waktu itu dia berbagi di dua tempat. Tahun kedua, di dua bulan pertama juga di dua tempat. Kini dia harus berbagi pengetahuan di 4 lokasi yang saling berdekatan, jarak terjauh kira-kira hanya 1 km. Jarak tak menjadi masalah, tempat yang banyak pun tak menjadi perkara, masalahnya hanya satu tetapi fatal: Lupa. Dia juga heran mengapa “si Lupa” doyan menemaninya. Nampaknya ia harus belajar untuk mengingat.
Terhitung Januari 2013, 8 kali sudah dia lupa jadwal berbaginya. 5 kali tertolong dengan kelincahannya  sendiri, sekali terbantu oleh temannya yang tanpa sengaja sangat available untuk mengganti, dan sekali ini, naas, tak tertolong. Orang-orang berkata “mengosongkan kelas = dosa besar”. Entahlah apa rumus ilmiah dari lupa. Yang dia tahu,_dari penjelasan dari seorang tutor biologi_, lupa adalah amnesia ringan. Apakah amnesia ringan itu akan menjadi berat? seperti cerita di sinetron-sinetron : gadis amnesia malang, melupakan memory indahnya, bahkan keluarga dan kekasihnya_,Naudzubillah. Pikirannya memang sedang semrawut: penelitian yang tak kunjung berujung, pengetahuan yang musti terus di-upgrade demi performa maksimal dalam kelas, hingga hal persiapan pernikahan yang tinggal seumuran pengeraman telur.
Kasihan dirinya. Dia selalu melontarkan kritik pedas kepada para aparatur pemerintahan yang tidak bekerja dengan profesional. Kini kritik itu menghantam dirinya sendiri. Kekhawatirannya segera menjadi-jadi jika ia membayangkan orang-orang di sekelilingnya menjatuhkan penilaian overgeneralisir  terhadap orang-orang yang ber-style seperti dirinya dan memberinya gelar seumur hidup: si pelupa. Dia khawatir ketika orang-orang menyebut dirinya Pelupa, energi kata pelupa akan merasuki tubuhnya hingga ke alam bawah sadarnya, dan akhirnya membentuk dirinya menjadi seorang pelupa tulen.
Saat ini dia sedang bersiap-siap menuju tempat di mana peringatan tertulis itu tercetak rapi. Ini adalah peringatan tertulis pertama yang akan diterimanya. “ Ini bukan akhir segalanya, masih ada kesempatan membuat hidupmu lebih bermanfaat. Laa Haula wa Laa kuwwata Illah Billah.”, katanya di depan cermin sebelum meninggalkan kamar mungilnya. Lain lagi ceritanya soal peringatan lisan yang tak terhitung lagi_mungkin intensitasnya sama dengan intensitas hujan yang mengguyur Jakarta beberapa bulan lalu, yang membuat penduduknya serasa hidup di pulau terapung_. Orang-tua_kakek, nenek,ibu, ayah, om, tante,kakak, kerabat ayah, kerabat ibu, senior ,junior yang merasa tua, husband candidate_ kerap kali memberikan peringatan dengan mimik, momok,  serta gestur masing-masing, dia lebih suka menyebutnya wejangan, menurutnya agar konotasinya membangun.
Tuhan Maha Tahu kesalahan yang  disengaja dan yang tak  disengaja. Mohon sambutlah kehendaknya untuk bermakna bagi semesta. Kuatkanlah lahir dan batinnya untuk merealisasikan cita-citanya, seperti kisah sang burung pipit ketika membantu memadamkan api pembakaran Nabi Ibrahim  dengan air di paruh kecilnya.
Dia ingin hidupnya adalah pengabdian sempurna kepada kemanusiaan. Karuniakanlah padanya  jalan untuk menggapainya serta kuatkanlah jiwa dan jasadnya dalam berkhidmat kepada-Mu.


Aku mulai menuliskan kisah ini di Kamis,28 Februari 2012, pukul 7.50 malam_sesaat setelah dia menutup telepon dari Direktur tempat di mana ia mengabdi. Dirinya terlihat lesu, mempertanyakan dalam hati mengapa penyakit lupanya belum juga sembuh. Dan melanjutkannya hingga usai di Jumat, 1 Maret 2013, pukul 11 siang ketika ia tersadar bahwa kini ia memang sedang menjauh dari Cahaya.