SP I
Esok, Jumat, 1 Maret 2013, seorang
gadis berumur 23 tahun, _berperawakan: tinggi: 161 cm, dengan berat badan ± 55 kg, kulit sawo matang, mata agak sipit, bentuk
hidung dan bibir ala ras Melayu Mongoloid_ kemungkinan besar akan menerima SP(
surat peringatan ) dari tempatnya bekerja. “Lupa” alasan andalan yang selalu
keluar dari mulutnya. Sebenarnya ini bukan alasan yang dibuat-buat. Lupa _salah
satu dari sekian banyak daftar ketidaksempurnaannya_kini semakin menjadi-jadi.
Di tahun pertama dia bekerja, segalanya lancar,
hampir dikatakan sempurna. Jadwal berbagi dengan adik-adik tak pernah
terlewatkan. Waktu itu dia berbagi di dua tempat. Tahun kedua, di dua bulan
pertama juga di dua tempat. Kini dia harus berbagi pengetahuan di 4 lokasi yang
saling berdekatan, jarak terjauh kira-kira hanya 1 km. Jarak tak menjadi
masalah, tempat yang banyak pun tak menjadi perkara, masalahnya hanya satu
tetapi fatal: Lupa. Dia juga heran mengapa “si Lupa” doyan menemaninya. Nampaknya
ia harus belajar untuk mengingat.
Terhitung Januari 2013, 8 kali sudah
dia lupa jadwal berbaginya. 5 kali tertolong dengan kelincahannya sendiri, sekali terbantu oleh temannya yang
tanpa sengaja sangat available untuk mengganti, dan sekali ini, naas,
tak tertolong. Orang-orang berkata “mengosongkan kelas = dosa besar”. Entahlah
apa rumus ilmiah dari lupa. Yang dia tahu,_dari penjelasan dari seorang tutor
biologi_, lupa adalah amnesia ringan. Apakah amnesia ringan itu akan menjadi
berat? seperti cerita di sinetron-sinetron : gadis amnesia malang, melupakan memory
indahnya, bahkan keluarga dan kekasihnya_,Naudzubillah. Pikirannya memang sedang
semrawut: penelitian yang tak kunjung berujung, pengetahuan yang musti terus di-upgrade
demi performa maksimal dalam kelas, hingga hal persiapan pernikahan yang tinggal
seumuran pengeraman telur.
Kasihan dirinya. Dia selalu
melontarkan kritik pedas kepada para aparatur pemerintahan yang tidak bekerja
dengan profesional. Kini kritik itu menghantam dirinya sendiri. Kekhawatirannya
segera menjadi-jadi jika ia membayangkan orang-orang di sekelilingnya
menjatuhkan penilaian overgeneralisir terhadap orang-orang yang ber-style
seperti dirinya dan memberinya gelar seumur hidup: si pelupa. Dia
khawatir ketika orang-orang menyebut dirinya Pelupa, energi kata pelupa
akan merasuki tubuhnya hingga ke alam bawah sadarnya, dan akhirnya membentuk
dirinya menjadi seorang pelupa tulen.
Saat ini dia sedang bersiap-siap
menuju tempat di mana peringatan tertulis itu tercetak rapi. Ini adalah
peringatan tertulis pertama yang akan diterimanya. “ Ini bukan akhir segalanya,
masih ada kesempatan membuat hidupmu lebih bermanfaat. Laa Haula wa Laa kuwwata
Illah Billah.”, katanya di depan cermin sebelum meninggalkan kamar mungilnya. Lain
lagi ceritanya soal peringatan lisan yang tak terhitung lagi_mungkin
intensitasnya sama dengan intensitas hujan yang mengguyur Jakarta beberapa
bulan lalu, yang membuat penduduknya serasa hidup di pulau terapung_. Orang-tua_kakek,
nenek,ibu, ayah, om, tante,kakak, kerabat ayah, kerabat ibu, senior ,junior
yang merasa tua, husband candidate_ kerap kali memberikan peringatan dengan
mimik, momok, serta gestur masing-masing,
dia lebih suka menyebutnya wejangan, menurutnya agar konotasinya membangun.
Tuhan Maha Tahu kesalahan yang disengaja dan yang tak disengaja. Mohon sambutlah kehendaknya untuk
bermakna bagi semesta. Kuatkanlah lahir dan batinnya untuk merealisasikan
cita-citanya, seperti kisah sang burung pipit ketika membantu memadamkan api pembakaran
Nabi Ibrahim dengan air di paruh
kecilnya.
Dia ingin hidupnya adalah pengabdian sempurna
kepada kemanusiaan. Karuniakanlah padanya
jalan untuk menggapainya serta kuatkanlah jiwa dan jasadnya dalam
berkhidmat kepada-Mu.
Aku mulai menuliskan kisah ini di Kamis,28
Februari 2012, pukul 7.50 malam_sesaat setelah dia menutup telepon dari
Direktur tempat di mana ia mengabdi. Dirinya terlihat lesu, mempertanyakan dalam
hati mengapa penyakit lupanya belum juga sembuh. Dan melanjutkannya hingga usai
di Jumat, 1 Maret 2013, pukul 11 siang ketika ia tersadar bahwa kini ia memang
sedang menjauh dari Cahaya.
