aku ingat beberapa kata
alasan engkau memilihku menjadi makmummu
engkau lontarkan saat aku bertanya kembali
mungkin diamnya Bunda Fatimah saat ditanya oleh Nabi, bermakna bahwa beliau malu
atau mungkin saja saat itu Bunda sedang menakar dirinya,
layakkah beliau mendampingi sosok Sayyidina Ali
aku pernah membaca karyamu yang engkau abadikan dalam kata
engkau menulis tentang agungnya perempuan dalam baluran gaun spiritual
gemetar aku membacanya
mungkinkah diriku dapat menyerupai perempuan dalam imajimu itu?
"ada wujud Tuhan dalam dirimu"
kemudian engkau menanyakan,
bagaimanakah jadinya kelak jika Tuhan sirna dalam lakumu
"saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran", lanjutku meyakinkan
kini, tak menunggu waktu lama
janji itu akan terdengar
tak hanya olehku, oleh kita
![]() |
| foto:cahayahati89.wordpress.com |
Tuhan menguji mereka yang mengaku berjalan menuju-Nya
serangkaian tangga
kerikil tajam
batu cadas
persimpangan yang membingungkan
telah menunggu di depan sana
beberapa langkah dari sini
dari tempat di mana kita beranjak
ibarat bahtera, mampukah kita membawanya ke seberang sana?
di sana: pusar kehidupan.
aku memohon semoga engkau mencintaiku
seperti cinta seorang hamba kepada Tuhannya
agar aku tak perlu risau menakar ketaatanku
agar kalbumu dalam lakumu
menjadi jawaban atas seuntai tanya: "Berkhidmat Kepada-Nya dapatkah mewujud dengan berkhidmat kepada makhluknya?"
Pemilik Cinta, bawalah kami menuju Samudera Cinta-Mu yang Maha Luas...
Pandang-Pandang, Rabu, 6 Februari 2013
hujan perdana Februari (15.24)
di ruangan persegi panjang
tempat adik-adik bertanya
mengapa harus bersekolah.
bukan hanya kali ini aku mengalaminya. gejalanya telah muncul beberapa hari sebelumnya. Kepasrahan tak diindahkan sebagai mana pesannya. dan akhinya titik jenuh menjadi muaranya. Rutinitas membawaku ke sudut yang terasing. mungkin inilah yang dimaksud Marx: aktivitas yang membawa manusia teralienasi. Bahkan agamapun akan membawa manusia teralieanasi jika hanya sebatas ibadah superfisial yang menjadi pelengkap lakon kita. Tak bermakna, hampa, dan tak menjadi apa-apa...
Pada sajak yang menemaniku di awal bulan Rajab, aku bertanya di manakah makna itu: "Perjalanan menuju keAbadian"
![]() |
| foto:st283636.sitekno.com - |
Tuhan, ini untuk kesekian kalinya:
ini adalah perjalanan, tinggalkan bekal yang memberatkan
bukankah kita adalah musafir?
Musafir Cinta berjalan menuju KeAbadian
Terima kasih untuk surat-Mu
Untuk Pengampunan, Nabi-Nabi, dan Para Rombongan-Mu
dan untuk Rahman-Mu yang Engkau Anugerahkan kepadanya
semoga aku layak menerima-Nya.
Jumat, Awal February 2013, 11.15 perpustakaan FE-UH
![]() |
| foto:slight-hope.blogspot.com - 5 |
" Masih ada mereka yang menyeimbangkan semesta, itulah mengapa KI AMAT masih malu untuk menengok pijakan kita di sini." ini kesimpulan yang ku ambil dari pembicaraan kita beberapa tahun lalu, masihkah engkau ingat? Kala itu aku sering memintamu manja untuk meluangkan waktumu, khusus untukku, hanya kita_ aku dan kamu, menempati jejeran batu yang tak karuan design-nya. Sore, aku pilih waktu sore, waktu itu adalah waktu engkau menunggu panggilan dari benda persegi panjang yang selalu engkau sisipkan dalam tas rajut kuning muda mungil yang jarang orang lihat, karena tertutupi kain panjang yang engkau kenakan...Aku merindukan saat itu, saat engkau begitu tabah mendengar kata-kataku yang sulit ku rangkai menjadi pertanyaan. Aku rindukan saat itu, saat dahiku mengernyit, respon dari penjelasanmu yang begitu fasih dan tanyaku pun berlanjut hingga esok sorenya....
![]() |
| foto: noruleminthutch89.blogspot.com - |
Senin pagi, saat aku tak mendapatkan restu untuk turun ke jalan mempertanyakan lari ke mana keadilan untuk kawan-kawanku di Bima dan di seluruh pelosok bumi-Nya.(26 Desember 2012), akhir tahun yang menyedihkan.
(Senyum ini tidak pernah renyah lagi kawan, semenjak ku tahu sungguh sulit menjadi manusia. Maaf kawan, hanya ucapan doa dari seorang yang bukan ahli ibadah yang bisa ku beri.)







