anxious
Aku gelisah kawan, aku gelisah karena yang aku tahu, tak dapat kumunculkan dalam realitas ini. Ketika saudaraku saling memangsa, aku tak berani melerai, ketika sekelilingku melakukan hal bodoh, aku turut membenarkannya. Sungguh susah kawan menjadi seorang manusia, sama susahnya menemukan Tuhan dan menghormati-Nya. Tuhan akan menghukumi ciptaan-Nya menurut pemahaman mereka masing-masing, sepertinya Dia akan menghukumiku sebagai seorang munafik, seorang bodoh karena tak berdaya, atau lebih tepatnya tak memberdayakan diri. Entah bagaimana bentuk kontrakku dengan Dia ketika Dia memberiku wujud kasar ini. Entah sejak kapan kontrak itu mulai menua, hilang menguap dan tak berbekas lagi. Namun, ada saat realitas ini memaksaku untuk mencari Dia, menemukan Dia, dan membawa-Nya bersamaku karena yang ada di hadapanku sungguh tak membuatku tenang. Gelisah diam-diam menghampiriku, ketika khayalan surga memaksa untuk diabadikan, namun di saat yang sama neraka mengumpulkan tenaganya untuk menghabisiku. Sungguh sulit kawan menjadi manusia, sama sulitnya ketika engkau “buta” kemudian menghitung nikmat-Nya. Ku pikir ini kerena kebodohanku, semakin larut dalam gelisah, semakin beku untuk bergerak, mati rasa. Aku tak tahu berkompromi dengan realitas, atau aku lumpuh karena virusnya yang semakin ganas? Tetap saja, ini membuatku mati rasa. Aku butuh Engkau, cahaya-Mu yang membawaku ke samudera kebebasan dan menyelami segalanya.
Senin pagi, saat aku tak mendapatkan restu untuk turun ke jalan mempertanyakan lari ke mana keadilan untuk kawan-kawanku di Bima dan di seluruh pelosok bumi-Nya.(26 Desember 2012), akhir tahun yang menyedihkan.
(Senyum ini tidak pernah renyah lagi kawan, semenjak ku tahu sungguh sulit menjadi manusia. Maaf kawan, hanya ucapan doa dari seorang yang bukan ahli ibadah yang bisa ku beri.)