Sabda terILHAMi untukku
Sehari sebelumnya kecerobohanku memperlihatkan tajihnya kembali. Aku membeli tiket untuk mama dengan jadwal yang tak selaras dengan aturan imigrasi Malaysia. Dan akibatnya mama harus berlama-lama dengan petugas imigrasi setempat setiba beliau di Kuala Lumpur. Bagiku ini ceroboh yang fatal. Aku kira pun juga menurutmu. Ini terlihat dari sikapmu mendiamkanku. Aku paham dan kita pun lama saling mendiamkan.
Entah saat itu pukul berapa, engkau datang berupaya diam-diam, namun langkahmu bersuara jadi aku tau engkau datang. Aku kemudian lega, lengan yang kuat itu melingkari tubuhku membuatku terasa hangat dalam dekapanmu, dan kecupan yang tak sekejap mendarat di keningku. Dugaanku kini meleset, aku kira diam-diaman kita akan berlarut hingga esok dan esoknya lagi. Cerita ini menjadi berubah, “selamat ulang tahun istriku.”, terucap setengah berbisik.
Demi Allah aku lupa hari kelahiranku. Maha indah skenario-Nya. Dia membuatku lupa dan menghendakimu mengingatkanku. Aku mengharu, betapa Maha rendah hati-Nya Dia menyentuh kalbuku dengan sepenggalan kisah kita. “maafkan sayang, aku hanya memberi pelukan hangat bukan benda-benda yang terpajang di luar sana.” Aku semakin mengharu biru, aku teringat dengan penggalan munajat putri Rasulullah yang baru saja ku dengar dari mulut seorang ustad, “ Ya Tuhan jadikanlah aku hidup sederhana baik di kala papa maupun di kala kelebihan.” Sebulan lebih kita bersama, masaku bersamamu memberikan pembelajaran untuk tetap istiqamah dalam kesederhanaan. Meskipun terkadang aku memintamu manja mengikuti nafsu makanku yang beraneka. “Sepertinya aku ngidam deh kak.”, kalimat andalan untuk membuatmu segera mengamini permintaan-permintaan tak rasional dariku.
Terima kasih ucapanmu sayang. Tak ada yang lebih indah selain bisikan sabda yang memberi isyarat kepada mata untuk berbicara. Alhamdulillah Ya Rahman Ya Rahim.
Awal fajar Senin, memasuki bulan kedua pernikahan kita. (6 Mei 2013)

