untuk engkau yang akan menjadi imamku
aku ingat beberapa kata
alasan engkau memilihku menjadi makmummu
engkau lontarkan saat aku bertanya kembali
mungkin diamnya Bunda Fatimah saat ditanya oleh Nabi, bermakna bahwa beliau malu
atau mungkin saja saat itu Bunda sedang menakar dirinya,
layakkah beliau mendampingi sosok Sayyidina Ali
aku pernah membaca karyamu yang engkau abadikan dalam kata
engkau menulis tentang agungnya perempuan dalam baluran gaun spiritual
gemetar aku membacanya
mungkinkah diriku dapat menyerupai perempuan dalam imajimu itu?
"ada wujud Tuhan dalam dirimu"
kemudian engkau menanyakan,
bagaimanakah jadinya kelak jika Tuhan sirna dalam lakumu
"saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran", lanjutku meyakinkan
kini, tak menunggu waktu lama
janji itu akan terdengar
tak hanya olehku, oleh kita
![]() |
| foto:cahayahati89.wordpress.com |
Tuhan menguji mereka yang mengaku berjalan menuju-Nya
serangkaian tangga
kerikil tajam
batu cadas
persimpangan yang membingungkan
telah menunggu di depan sana
beberapa langkah dari sini
dari tempat di mana kita beranjak
ibarat bahtera, mampukah kita membawanya ke seberang sana?
di sana: pusar kehidupan.
aku memohon semoga engkau mencintaiku
seperti cinta seorang hamba kepada Tuhannya
agar aku tak perlu risau menakar ketaatanku
agar kalbumu dalam lakumu
menjadi jawaban atas seuntai tanya: "Berkhidmat Kepada-Nya dapatkah mewujud dengan berkhidmat kepada makhluknya?"
Pemilik Cinta, bawalah kami menuju Samudera Cinta-Mu yang Maha Luas...
Pandang-Pandang, Rabu, 6 Februari 2013
hujan perdana Februari (15.24)
di ruangan persegi panjang
tempat adik-adik bertanya
mengapa harus bersekolah.

