Engkau adalah lelaki tersabar setelah para nabi dan pengikutnya, ayah dan saudara lelakiku. Pernikahan memberi kita ruang untuk mencicipi kesabaran dan merasai nikmatnya keikhlasan. Ini adalah jawaban untuk sahabat yang menanyai makna pernikahan. Meski pernikahan kita baru saja menggenapi usia 4 bulan, namun saripati kehidupan selalu engkau ajarkan dari laku dan tuturmu. Tak jarang aku menakar diri: layak tidakkah aku mendampingimu sayang. Engkaulah yang melengkapiku, menutupi celah kekanak-kanakanku dengan baut kedewasaanmu.
Dahulu engkau pernah memintaku untuk senantiasa bersabar menjauhkan segala hal pengeruh jiwa. Coba lihat sekarang sayang, engkaulah yang melakukan segalanya untukku, agar aku tak lupa tujuan semula pernikahan kita: Menuju Keabadian. Aku tak mampu menahan mata untuk berisyarat takjub ketika memandangmu dari dekat saat engkau tak terjaga dalam tidur. Aku pun tak punya cukup daya melepaskan lengan yang melingkar di tubuhmu saat keningku memaknai kasih sayang saban do'a fardhu usai engkau imami.
Saat rambutmu tak lagi menghitam, tubuhmu tak lagi tegap, dan penglihatan itu binarnya kian meredup, aku berdoa agar tetap menemanimu memandang senja dan membangunkanmu kala fajar mulai nampak. Engkaulah jiwaku yang bertajalli dalam wujud yang berbeda. Tetaplah dekat dengan-Nya untuk mendekatkanku dengan-Nya.